Monday, July 14, 2014

Batuk Itu Ganggu, Atasi Sejak Dini.

Hari Jumat, 11 Juli 2014 lalu, saya hadir dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Combiphar dalam rangka edukasi "Batuk Itu Ganggu" untuk mengajak masyarakat luas dan khususnya generasi muda agar tidak menyepelekan gangguan batuk terhadap diri sendiri dan lingkungan, dengan cara menggunakan masker dan memilih obat batuk yang aman, alami dan terpercaya. Rangkaian kegiatan edukasi dilakukan di Jakarta dan Bandung selama bulan Juni - September 2014. Dalam edukasi ini masyarakat diberikan pemahaman dasar mengenai batuk dan penyebabnya. Batuk merupakan gejala, sebuah reaksi normal mengeluarkan suatu benda asing dalam tubuh. Namun, apabila tidak ditangani dengan benar sejak dini, batuk dapat mengakibatkan demam hingga timbul inflamasi jalur pernapasan atas akut yang menular.

Menurut dokter Carlinda Nekawaty, Medical Manager Combiphar, batuk yang dibiarkan tanpa penanganan yang benar, apalagi berlangsung lebih dari tiga hari dinilai tidak normal, sehingga butuh pertolongan lebih lanjut dari dokter. Dokter Carlinda menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab batuk yang disebabkan oleh gaya hidup kurang sehat. Antara lain konsumsi makanan yang terlalu banyak minyak, berlemak, goreng-gorengan, yang kemungkinan besar bisa mengiritasi tenggorokan atau mengiritasi saluran pencernaan. Faktor lainnya, karena memang ada iritasi. "Jadi kalau lifestyle kita tidak sehat, maka batuk akan terus menghinggapi kita. Apalagi dengan daya tahan tubuh kita yang kurang, otomatis lebih cepat lagi batuk itu akan menyerang, papar Dokter Carlinda yang ditemui di Resto Beautika, SCBD, dalam Media Briefing OBH Combi "Batuk Itu Ganggu" pada 11 Juli 2014. 
Lebih lanjut dijelaskan dokter Carlinda, agar terhindar dari batuk, yang harus dilakukan adalah menghindari pemicunya. Dia memberi contoh, salah satu yang bisa dilakukan adalah mengurangi atau menjaga apa yang kita makan atau minum. "Kalau kita tahu, misalnya kita alergi dengan minuman yang dingin, tapi tetap kita minum, otomatis tetap akan batuk,” katanya.
Cara mencegah penularan batuk yakni menggunakan masker. Hal ini penting karena salah satu medium penularan batuk ke orang lain ialah kontak udara. "Di saat kita batuk, banyak kuman yang disebarkan. Kalau ada orang lain di sekitar kita yang daya tahan tubuhya tidak bagus, otomatis kita bisa menularkan ke orang lain," ujarnya.
“Selain itu, bersalaman dengan orang ketika kita lagi batuk sebaiknya dihindari, karena itu ada kontak langsung,” katanya. Namun kata dia, Untuk menangani batuk ringan, caranya cukup mudah, yakni dengan minum air putih, istirahat yang cukup, dan makan makanan yang bergizi. "Air hangat dicampur dengan madu juga bermanfaat untuk mengurangi batuk.”



Bahan Alami
Bahan alami yang telah dipercaya berabad-abad dalam mengatasi batuk antara lain adalah Succus Liquorice. Bahan alami ini telah teruji secara empiris bisa mengurangi gejala batuk. "Succus Liquorice juga merupakan anti radang/anti inflamasi, di mana fungsinya bisa mengurangi gejala inflamasi yang disebabkan oleh batuk. Cara kerja Succus bisa sebagai expectorant dan antitussive." jelas dokter Carlinda. "Jadi kalau misalnya batuk bukan lagi merupakan reaksi normal menghilangkan suatu benda asing dalam tubuh, tapi sudah merupakan gejala dari penyakit, ada inflamasi. Nah, Succus dapat dipergunakan sebagai anti inflamasi dari radang yang ada," jelasnya.

Senada dengan Dokter Carlinda, Senior Brand Manager OBH Combi, Combiphar, Aryana Jasiman mengatakan, " Kandungan licorice (Succus Liquorice) atau dalam bahasa latin Glycyrriza Glabra ini ada di dalam obat batuk hitam. Licorice tidak menimbulkan efek samping dan rasanya dapat diterima, sudah dimanfaatkan sejak 2000 tahun lalu, karena berfungsi sebagai anti inflamaory dan anti alergi."

"Secara ilmiah kandungannya juga diakui oleh WHO, Chinese Pharmakope dan Herbal Pharmakope, British Herbal Compendium dan German Standard License," ujar Aryana Jasiman.

Karenanya, kata Aryana Jasiman, produk OBH Combi memanfaatkan Licorice dalam komposisi obat batuknya, selain bahan alamiah lainnya. " Licorice sebagai ekspekoran dan antitusif yang bekerja secara perifer, modifikasi viskositas cairan pada saluran pernapasan juga relaksasi otot polos sehingga mengurangi intensitas batuk. Licorice juga mempermudah sekresi dalam mekanisme batuk, antitusif ada yang bekerja secara perifer dan sistem saraf pusat.


Thursday, October 31, 2013

Cinta Indonesia? Yuk Belanja di TumbuSapa!

Berbelanja online sudah semakin menjadi gaya hidup masyarakat yang kadang tak punya waktu banyak untuk berbelanja di mall atau toko fisik. Namun berbelanja online produk etnik khas Indonesia yang memiliki kualitas terbaik tampaknya masih jarang ditemukan. Nah, TumbuSapa.Com hadir sebagai perwujudan kekaguman dan cinta kita pada Indonesia, pada beragamnya tradisi, keindahan produk karya Indonesia, dan kekayaan budaya dan alam yang berlimpah. 


Mengingat  tidak mudahnya mendapatkan produk karya Indonesia setiap saat yang berkualitas dengan harga yang wajar, maka hadirlah TumbuSapa.Com yang menampilkan berbagai karya dan alam Indonesia dalam satu wadah untuk bisa dinikmati dan diperoleh dengan mudah. Beberapa hari lalu, saya mencoba berbelanja di TumbuSapa.Com, dan berikut sedikit cerita tentang produk yang saya beli itu.




Semua barang-barang unik yang disediakan melalui TumbuSapa.Com sudah dikurasi, dan melalui pengawasan kualitas yang ketat. Sehingga jumlah barang tidak selalu dalam jumlah banyak, tetapi berkualitas. Benar saja, saat saya membeli pouch batik di TumbuSapa.Com, kualitas pouch yang saya beli memang oke. Dengan bahan kain batik yang lembut, tas serbaguna ini bisa dibawa kemana-mana dan cocok untuk menyimpan barang-barang keperluan kita. Karena dilengkapi beberapa kantong di dalamnya, pouch cantik ini muat banyak loh :D


Long - Red Houndstooh Scarf yang saya beli juga sangat nyaman digunakan. Motifnya keren dan bahannya tidak panas sehingga cocok dipakai untuk aktifitas outdoor maupun indoor. 


TumbuSapa.Com juga menyediakan Customer Service dengan jam kerja yang bisa dihubungi melalui berbagai metode telepon, Live Chat dengan respon yang cepat dan pelayanan yang baik, dan email yang bisa memberikan advis serta membantu Customer jika mengalami kesulitan.




Selain dua produk tadi, saya juga membeli ular tangga yang unik di TumbuSapa.Com. Sengaja saya membeli ini untuk mainan Fadel, anak saya yang berusia hampir 4 tahun. Mengapa unik? Karena papan, dadu dan pionnya terbuat dari kayu yang dilukis dengan tangan. Selain unik, bahan kayu tentu lebih awet disbanding permainan ular tangga yang terbuat dari kertas karton yang kebanyakan dijual di toko mainan.

Tak hanya itu. Green tea dan kerupuk kemplang plus sambal petis juga saya beli di TumbuSapa.Com. Ya, toko online yang mengusung tema etnik Indonesia tak hanya menjual produk non food tapi juga produk makanan, minuman, dan produk perawatan tubuh.

Dan tak kalah okenya, Produk TumbuSapa.Com yang saya pesan, sudah tiba di alamat saya keesokan harinya! Yap. Tumbusapa.Com menjamin semua produknya bisa dikirim ke seluruh pelosok Indonesia bahkan luar negeri karena kerja sama mereka dengan perusahaan jasa pengiriman yang berkualitas.


Jadi, tunggu apa lagi? Buat semua generasi muda Indonesia yang mencintai dan mengagumi keberagaman tradisi budaya dan alam Indonesia, yuk belanja di TumbuSapa.Com J

Note:
Semua foto diambil dari tumbusapa.com



Thursday, April 25, 2013

Yang Dinanti Pagi dan Sore



Hampir setiap pagi dan sore ia melewati tempat tinggal kami sambil membunyikan musik keras-keras. Lagu-lagunya sudah sangat familiar di telinga anak-anak. Lagu naik kereta api, burung kutilang, pohon cemara, pelangi, dan masih banyak stok lagu anak-anak lainnya. Saat tiba di depan rumah, ia pasti memelankan kayuh roda kendaraan yang menyerupai delman, namun menggunakan sepeda. Dan suara anak-anak yang berteriak gembira menyambut kedatangannya adalah kebahagiaan buat ia karena sebentar lagi rezeki akan berpihak kepadanya.

"Pada hari minggu kuturut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendali kuda supaya baik jalannya"

Salah satu lagu yang selalu ia putarkan untuk anak-anak. Jika sehari saja ia tak tampak, maka ibu-ibu pasti akan bertanya-tanya. Ke mana ia? Sakitkah? Pulang kampungkah?

Sudah bisa menebak, siapakah dia? Ya, dialah tukang odong-odong.

Tukang odong-odong yang setia menghampiri kompleks kami setiap pagi dan sore adalah primadona bagi ibu-ibu. Betapa tidak, anak yang malas makan akan jadi lahap makannya saat bermain odong-odong. Anak yang rewel akan jadi anteng, lalu sesama ibu-ibu akan jadi lancar ngerumpinya.

"Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku"


Terkadang ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya juga ikut menyanyi lagu yang mungkin mengingatkan mereka dengan masa kecil mereka. Cukup dengan seribu rupiah setiap tiga lagu, anak-anak bisa menikmati sensasi naik turun, maju mundur, di atas odong-odong yang berbentuk hewan atau berbentuk motor. Walau tak sama persis, tapi sensasinya menyerupai permainan di mall-mall yang menggunakan koin atau member card dengan sistem gesek. Harga di mall tentu lebih mahal, kan?

Selain harganya yang sangat terjangkau, kehadiran odong-odong juga sebagai bentuk pelestarian lagu anak-anak. Ya, karena di stasiun tv sekarang sudah sangat jarang anak-anak bisa menyaksikan lagu yang sesuai dengan umur mereka.

Satu, dua lagu selesai terputar. Abang tukang odong-odong masih terus mengayuh roda sepedanya, agar sensasi naik turun dan maju mundur yang dirasakan anak-anak tak berhenti.

“Bang, berapa lagu lagi?” Tanya seorang ibu.
“Satu lagi seribu” Jawab Abang tukang odong-odong.
“Dua ribu deh” Ibu itu menyerahkan selembar dua ribuan.

Kini lagu burung kutilang yang menjadi musik pengiring.

Di pucuk pohon cemara
burung kutilang berbunyi
bersiul-siul sepanjang hari
dengan tak jemu-jemu
mengangguk-angguk sambil berseru
trilili lilili lilili

sambil berlompat-lompatan
paruhnya slalu terbuka
digeleng-gelengkan kepalanya
menentang langit biru
tandanya suka ia berseru
trilili lili lilili

Fadel pun, ketagihan bermain odong-odong. Bersama tiga orang teman sebayanya, ia sudah bisa menaiki odong-odong sendiri. Awal mengenal odong-odong saat ia masih berumur 2 tahun, ia masih minta bantuanku untuk menggendongnya menaiki permainan kesayangannya ini. Pernah sekali saya merasa sangat senang saat lagu-lagu yang diputar oleh abang tukang odong-odong lain dari biasanya. Lagu tema dewasa? Oh, tentu bukan. Kalau lagu-lagu dewasa yang terkadang galau-galau itu yang diputar, tentu semua ibu-ibu akan protes dan anak-anak pun tidak akan anteng di atas odong-odong. Kali ini lagu yang diputarkan adalah lagu daerah dari berbagai daerah di Indonesia. Ampar-ampar pisang, Manuk dadali, apuse, soleram, dan Wow! Angingmammiri juga ada. Walaupun tidak tiap hari diputarkan lagu –lagu daerah itu, minimal mengenalkan ke balita yang sering naik odong-odong dengan lagu daerah yang hampir tidak pernah lagi ada di tv.



Saturday, April 13, 2013

Tetangga Kami Bugis..

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Kisah ini terjadi sekitar 2 tahun lalu saat saya dan keluarga menjadi warga baru di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Waktu itu kami baru saja pindah dari daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Maklum, selama menetap di ibukotanya Indonesia ini, kami sekeluarga memang keluarga “kontraktor”. Tinggal di rumah kontrakan yang dekat dari tempat kerja suami :)
 Sebagai orang yang lahir dan besar di tanah Bugis namun hijrah di Jakarta beberapa tahun terakhir ini, saya merasa lebih nyaman untuk tetap menggunakan bahasa Bugis ketika berbincang dengan suami dan saudara sepupu yang juga tinggal bersama kami. Terkadang, ketika kami melakukan hal itu di tempat umum, terlihat raut wajah aneh dan bingung saat orang-orang sekitar mengamati kami dengan bahasa dan dialek yang tak lazim di telinga mereka. Mungkin saja mereka mereka-reka, asal daerah kami. Pernah bertemu dengan seorang ibu di sebuah pusat perbelanjaan dan menebak kalau kami dari Sulawesi Tenggara saat mendengar logat kami. “Kami dari Sulawesi Selatan, Bu. Provinsinya masih tetangga dengan Sulawesi Tenggara”, ujarku saat itu.
Obrolan menggunakan bahasa bugis juga sering kami gunakan untuk membahas hal-hal “rahasia” ketika kami di tempat umum. Saya dan keluarga memang masih mempertahankan bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari dan perlu dilestarikan sebagai suatu bagian dari kebudayaan bangsa. Bahasa Bugis, walaupun agak berbeda dari segi dialek antara Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, dan beberapa daerah yang menggunakan bahasa Bugis, akan tetapi ketika bertemu dengan orang Bugis (walaupun dialeknya berbeda) di Jakarta yang dominan dari suku Jawa, Sunda, dan Betawi, saya merasa seperti bertemu dengan keluarga sendiri di perantauan ini.
Suatu sore yang sangat cerah, saya dan sepupu saya yang sama-sama belum hapal betul jalan di sekitar tempat kami tinggal, berniat mencari kios yang khusus menjual beras (bukan kios kelontong yang jualannya serba ada) dengan alasan harganya pasti lebih murah dibanding kios kelontong. Dengan mengendarai sepeda motor, kami akhirnya menemukan kios yang kami cari. Lokasinya sebenarnya tak begitu jauh, kira-kira 300 meter dari rumah kontrakan kami. Ditempuh dengan berjalan kaki pun tak masalah.
Aro pabbalu were’!” seru sepupu saya sambil menepikan motor yang kami kendarai.
Motor telah terparkir di depan kios. Tanpa ba-bi-bu, saya dan sepupu saya langsung nyelonong masuk ke dalam kios lalu memilah dan memilih beras yang baik kualitasnya (versi saya) juga cocok di kantong. Hehehehe.. Pemilik kios hanya mengamati saya dan sepupu saya dari jarak kurang lebih 1,5 meter dari arah saya.
Matebbe’ kessi’kessi’na di’?” Saya memperlihatkan beras  yang ada dalam genggaman saya ke sepupu saya untuk meminta komentar darinya.
Iyya di’?” jawabnya.
Tiba-tiba pemilik kios berujar: “Tapileini laingnge
Sontak saya dan sepupu saya saling bertatapan. Dalam hati saya kaget, malu, tapi juga senang. Kaget karena cukup jarang saya bertemu dengan saudara sekampung di Jakarta se-heterogen ini. Malu karena mengomentari beras si penjual yang banyak pasir-pasirnya. Senangnya? Ya karena bertemu sesama orang suku Bugis, tetanggaan pula. Serasa di kampung sendiri. Hihihi..
Singkat cerita, saya akhirnya jadi langganan beli beras di tempat ini. Bisa ditebak kenapa. Karena penjualnya memilihkan beras terbaik dengan harga yang lebih murah. Apalagi saya suka beli beras untuk stok 1 bulan. Kalau beli di tempat ini, pasti diberi diskon. Komplet kan? Kualitas oke, harga oke, dapat diskon pula karena beli banyak. Kebahagiaan buat ibu-ibu seperti saya. Hehehehe..

---

Aro pabbalu were’!” = “Di sana ada penjual beras!”
Matebbe’ kessi’kessi’na di’?” = “Banyak pasir-pasirnya ya?”
Iyya di’?” = “Iya ya?”
Tapileini laingnge” = “Ada pilihan lain nih..”




Wednesday, January 30, 2013

Di Balik Keriuhan 100 Blogger Nonton Bareng Indonesia Mencari Bakat


Indonesia Mencari Bakat sebagai program spesial TRANS TV yang tayang pada hari Sabtu 12 Januari 2013 lalu itu ada yang berbeda. Selain pesertanya yang punya beraneka ragam bakat yang unik, mengagumkan dan selalu dinanti oleh pemirsa setianya, jurinya yang terpampang nyata dan cetar membahana, malam itu juga ada saya  bersama 99 Blogger lain yang duduk di deretan kursi penonton berkat undangan dari Blogdetik dan Trans TV. Ya, kami berkesempatan untuk melihat langsung Indonesia Mencari Bakat live dari studio 1 Trans TV dan tak hanya ditonton oleh seluruh pemirsa Indonesia namun juga tayang di Negara tetangga kita, Malaysia melalui televise satelit berbayar ASTRO.

Suasana sebelum diskusi (sumber foto: Facebook TRANS TV)
Namun sebelum itu, kami disambut oleh panitia dari TRANS TV dan Trans Mania (komunitas pemirsa muda Trans TV) dan diajak untuk berdiskusi langsung dengan Sulistyo Hadi (Supervisor Marketing PR TRANS TV), Tegar Bangun (Associate Producer IMB), Karel Anderson (Blogdetik), dan Teuku Muda (Kreatif program IMB) yang dipandu oleh MC Mas Baron, dari Trans TV sekaligus bertemu langsung dengan beberapa finalis IMB di antaranya Yohanna Harso (pole dancer),  Sandrina Mayaza Azzahra (traditional dancer) dan Ardhy Dwiki Friananta (lyrical dancer).

Diskusi ini diawali dengan pemutaran video tentang Trans TV dan Indonesia Mencari Bakat mulai dari audisi di beberapa kota besar di Indonesia, hingga putaran final saat ini.


Narasumber (kiri-kanan:
Teuku Muda, Tegar Bangun, Karel Anderson, Sulistyo Hadi)
sumber foto: Facebook TRANS TV
Sulistyo Hadi dalam sambutannya, menjelaskan bahwa biasanya Trans TV mengundang media setiap ada program baru yang dirilis oleh stasiun tv ini. Namun kali ini Blogger mendapat kehormatan untuk  meliput program special INDONESIAMENCARI BAKAT ini dan melihat langsung proses produksinya secara langsung dengan harapan, blogger, melalui blog dapat mensosialisasikan tontonan yang bergenre talent show ini, sebagai pilihan tontonan yang menghibur dan inspiratif.

Selanjutnya, dalam sambutannya, Karel Anderson yang mewakili Blogdetik mengucapkan terima kasih kepada Trans TV karena telah mengajak 100 Blogger untuk tahu lebih banyak tentang proses produksi sebuah acara yang ditayangkan secara langsung. Ini tentunya menambah wawasan blogger dan menambah alternative ide postingan blog bagi blogger.

Program IMB yang tayang live setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 18.00 wib ini merupakan hasil dari kerja keras semua pihak yang terlibat agar menjadi layak ditonton pemirsa di layar tv. “Karena ini live, jadinya dituntut untuk tidak ada kesalahan dalam tayangannya. Semua pihak yang terlibat harus bisa memanfaatkan waktu yang sangat terbatas demi kesempurnaan tayangan yang tampil di layar tv penonton di rumah”, jelas Tegar (Associate Producer IMB) yang menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan blogger di tengah kesibukannya mempersiapkan acara IMB, beberapa jam sebelum acara malam itu di mulai.

Tak sampai di situ saja, para blogger juga diberi kesempatan untuk bertanya kepada para narasumber yang hadir. Ada yang bertanya mengenai pendidikan para peserta yang masih duduk di bangku sekolah selama masa karantina. Tegar menjelaskan bahwa pihak TRANS TV menyiapkan program homeschooling agar mereka tetap tak ketinggalan dalam hal pelajaran sekolah.

Suasana saat para blogger menyimak
sambutan dari narasumber
(sumber foto: Facebook TRANS TV)
Dari pertanyaan blogger lain mengenai jenjang karier peserta IMB pasca selesainya ajang ini, ternyata peserta IMB dikontrak eksklusif oleh pihak TRANS Corp yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para alumni IMB untuk berkarier di industri hiburan sesuai bakat yang mereka miliki. Seperti Putri Ayu, Brandon, Rumingkang, Hudson, dan masih banyak lagi alumni IMB yang kini telah berkiprah di industri hiburan tanah air bahkan hingga ke manca negara.

Josua Pangaribuan (singer), Yohanna Harso (pole dancer),  Sandrina Mayaza Azzahra (traditional dancer) dan Ardhy Dwiki Friananta (lyrical dancer) juga menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan para blogger sebelum tampil di pentas IMB hari itu.

Terlahir di tengah keluarga yang suka bernyanyi dan musik, siapa yang mengira Josua Pangaribuan (13 tahun) hanya belajar vocal secara otodidak. Cita-citanya menjadi penyanyi terkenal tampaknya selangkah lagi bisa ia raih lewat panggung IMB ini. Menurut Josua, selama mengikuti ajang pencarian bakat IMB hingga putaran final ini, ia banyak mendapat pelajaran dalam hal mengasah kemampuan tarik suaranya. Tak hanya itu, ia pun berkesempatan untuk bisa berduet dengan banyak penyanyi senior di panggung yang spektakuler dan ditonton oleh ribuan pasang mata.

Peserta selanjutnya yang sempat sharing bersama blogger adalah Ardhy Dwiki (18 Tahun), awal ikut IMB karena iseng. Namun ternyata lolos seleksi. Ini tak luput dari motivasi keluarga dan akhirnya ia benar-benar masuk ke panggung IMB. Setelah ikut IMB inilah pola pikirnya berubah dan bertekad untuk serius dan menekuni dunia lyrical dancer secara professional.

Sedangkan Sandrina yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu, ketika ditanya oleh blogger tentang perasaannya menjadi finalis IMB, ia mengaku senang. Ia yang sejak usia 3 tahun telah terlihat bakat menarinya itu, dimasukkan ke sanggar tari oleh orang tuanya di usia 7 tahun. Hingga di usianya yang baru 11 tahun saat ini, ia telah mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan penari idolanya, Didik Nini Towok berkat IMB.

Hanna, Sandrina, dan Ardhy berfoto bersama Blogger
(sumber foto: Facebook TRANS TV)
Lain lagi kisah Yohanna Harso. Pole dancer yang berusia 26 tahun ini telah meraih banyak penghargaan di antaranya Miss Pole Dancer Singapore 2011 dan Runner up Miss Pole Dance Singapore 2010 Jakarta. Ketika ditanya tentang motivasinya mengikuti IMB, Yohanna menjawab bahwa ia ingin memperkenalkan pole dancing kepada masyarakat Indonesia sebagai olahraga yang sarat akan seni dan keindahan. Selama ini banyak yang bilang kalau pole dance itu striptease. Tapi, aku perlu jelasin di sini, kalau olahraga ini itu mengedepankan art dan bukan erotis,” jelas Yohanna di hadapan kami.

Sebelum menutup bincang-bincang dengan blogger, Tegar Bangun sempat mengutarakan bahwa harapan Trans TV, program IMB ini dapat menjadi kampanye untuk membangkitkan semangat anak bangsa dari semua generasi untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya sebagai kebangaan bangsa Indonesia. Karena program ini tak hanya berorientasi pada rating atau hanya sekadar mengejar angka penjualan iklan yang tinggi namun juga untuk menunjukkan kepada seluruh pemirsa bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam kekayaan seni dan budaya, juga pelakon-pelakon seni yang hebat dan tak berhenti berkarya.

Siapa yang mau membacakan tulisannya?
Semua blogger mengacungkan tangan
Hehehe...

(sumber foto: Facebook TRANS TV)
Yang tak kalah hebohnya adalah sesi games yang dipandu oleh tim dari Trans TV. Semua blogger yang hadir ditantang untuk menuliskan kejadian yang dialami sejak pagi sampai berada di gedung Menara Bank Mega itu. Waktu yang diberikan hanya 5 menit. Dan terpilihlah 3 orang blogger (Mbak Meity, Alfan Renata dan Chairul Umam) untuk membacakan tulisannya. 3 blogger ini serta blogger yang memberi pertanyaan di sesi bincang-bincang tadi mendapat bingkisan menarik dari Trans TV loh!

Sekitar 1 jam sebelum Indonesia Mencari Bakat tayang, seluruh blogger yang hadir berfoto bersama di lobi TRANS TV lalu menuju ke studio 1. Saat memasuki studio 1, ternyata kursi penonton sudah ramai oleh para pendukung masing-masing peserta. Di atas panggung tampak peserta IMB bergantian melakukan gladi demi lancarnya acara nanti.

Dari 100-an blogger ini, ada yang tahu saya nyempil di mana
(sumber foto: Facebook TRANS TV)
Antrian sebelum masuk ke studio 1 Trans TV
(sumber foto: Facebook TRANS TV)

Tepat pukul 18.00 WIB, Ananda Omesh membuka acara INDONESIA MENCARI BAKAT dengan gaya khasnya yang selalu ditunggu oleh para pemirsa. Hadir pula Deddy Corbuzier, Addie MS, Titi Sjuman, dan Soimah sebagai juri yang senantiasa memberi kritik, saran, masukan bagi para seluruh peserta yang tampil.

Satu persatu peserta IMB mempertontonkan bakat mereka di panggung spektakuler di hadapan kami. Dengan sound system yang menggelegar, didukung oleh property yang disiapkan oleh crew TRANS TV yang sangat kompak, memukau kami yang sebelumnya hanya bisa menyaksikan acara ini lewat layar kaca saja.

Aksi Yohanna Harso
Sumber: Youtube
Duet Josua dengan KD
(sumber: google.com)
Josua Pangaribuan yang berduet dengan Krisdayanti, Vina Candrawati yang menampilkan lukisan wajah para juri, suara emas Abby Galabby dan konsep keren yang ditampilkan oleh Yohanna Harso, Ardhy Dwiki, Street Pass Junior, serta Sandrina yang menampilkan bakat-bakat istimewa mereka, semuanya mendapat komentar yang memuaskan dari para juri. Terbukti bahwa selama di IMB, bakat mereka yang semula masih belum diasah dengan baik, kini makin matang setelah beberapa bulan di karantina.

Setelah menyaksikan acara ini secara langsung, wawasan saya dan semua blogger yang hadir tentu jadi lebih bertambah mengenai produksi sebuah program live. Lebih menghargai karya anak bangsa dan berharap tontonan seperti ini terus memotivasi para pemirsa agar tak henti berkarya melalui bakat-bakat yang masing-masing kita miliki. Terima kasih Blogdetik dan Trans TV :)

Salam blogger!


Sunday, January 20, 2013

Pertolongan Pertama pada Anak Mimisan


Sebagai orang tua, tentulah panik ketika anaknya mengalami mimisan. Apalagi jika kejadian itu adalah yang pertama kali terjadi dan  tanpa adanya gejala-gejala sebelumnya. Mimisan atau hidung berdarah, atau dalam bahasa kedokterannya disebut epistaksis merupakan pendarahan yang keluar dari hidung melalui lubang hidung. Mimisan adalah hal yang sering dialami oleh anak-anak. Ada beberapa penyebab terjadinya mimisan antara lain.

Benturan
Trauma atau Benturan pada hidung karena anak terjatuh sehingga terkena benda tumpul atau hidungnya terpukul.  Bisa juga karena faktor pembuluh darah halus di dalam rongga hidung yang terlalu tipis.
Perubahan cuaca
Misalnya setelah berjalan di udara yang panas atau di bawah terik matahari kemudian masuk ke dalam rumah berpendingin ruangan.
Mengupil
Sering mengupil atau mengorek hidung yang berlebihan. Biasanya anak-anak yang merasa hidungnya gatal, ia selalu berusaha untuk mengeluarkan kerak hidung yang mongering di lubang hidungnya.
Benda asing masuk ke dalam hidung
Biji-bijian atau benda kecil lain yang masuk ke hidung dapat menimbulkan infeksi sehingga terjadi pendarahan di hidung. Biasanya tercium bau yang kurang enak dari lubang hidung.
Demam
Mimisan juga bisa terjadi saat anak demam tinggi. Adanya infeksi atau pilek juga bisa menimbulkan mimisan
Adanya Penyakit Lain
Beberapa penyakit yang disertai mimisan antara lain demam berdarah, kelainan darah seperti hemophilia dan leukemia.

Dari beberapa penyebab di atas, yang sering orang tua jumpai  adalah anak sehat-sehat saja, tiba-tiba mimisan. Hal ini biasanya karena perubahan suhu atau sering mengorek hidung tadi. Lalu, apa yang harus kita lakukan pertama kali ketika anak mimisan? Berikut adalah cara pemberian pertolongan pertama pada mimisan.
1.       Jangan panik
Pertama-tama, orang tua yang akan menolong anak yang mimisan tidak boleh panik agar anak pun tak ikut-ikutan panik. Yakinkan anak agar mau mengikuti anjuran orang tuanya.
2.       Duduk
Posisi terbaik adalah kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk) untuk mengalirkan darah dan mencegahnya masuk ke dalam sistem pencernaan atau pernafasan.
3.       Menjepit hidung
Menjepit atau memencet bagian depan cuping hidung selama 3 sampai 5 menit.
4.       Bernapas lewat mulut
Selama menekan hidung, sebaiknya bernapas lewat mulut dan jangan berbicara agar tidak mengganggu proses pembekuan darah.
5.       Kompres dengan Air Es
Boleh dibantu dengan mengompres air es tepat di tulang hidungnya (di antara kedua alis)
6.       Potong kuku anak secara teratur
Jika mimisan terjadi Karena seringnya anak mengorek hidungnya, secara teratur kukunya harus dipotong.
7.       Bawa ke Dokter
Jika semua saran-saran ini telah dilakukan namun mimisan belum juga berhenti setelah 10 menit, anak harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Monday, June 18, 2012

Sepanjang Jalan Braga



“Alyanna? Tumben nelpon. Apa kabar?” Suara yang kudengar ini masih sama ketika terakhir kali kami berjumpa. Sudah lama. Aku lupa tepatnya. Suaranya masih renyah. Terdengar selalu riang dan ceria.
“Kamu masih di Bandung kan?” Aku balik bertanya.
“He eh!” Ia mengiyakan.
“Temenin belanja oleh-oleh, please..” Aku lagi malas jalan-jalan sendiri di sini. Terlalu banyak cerita yang terkuak untuk dikenang setiap kususuri sepanjang jalan Braga.

“Oke, tapi aku izin pacarku dulu yaa..” Satu-satunya sahabatku yang menetap di Bandung  dan masih sering mengontakku hanya Alvy. Perkenalanku dengan Alvy berawal dari sebuah komunitas online di Jakarta, di mana kami berdua adalah anggota yang cukup aktif di sana. Alvy, cewek tomboy yang selalu tampil dengan rambut pendeknya ternyata teman yang asyik diajak ngobrol. Saat gathering dengan anggota-anggota komunitas, Alvy selalu punya cerita lucu yang ia jadikan guyonan dan acara kumpul-kumpul pun pasti akan seru. Namun begitu, Alvy tak pernah sedikit pun bercerita tentang kehidupan pribadinya. Siapa dan di mana keluarga besarnya aku tak tahu. Aku hanya tahu Alvy bekerja dan menetap di Bandung. Sesekali ke Jakarta. Sudah. Itu saja. Adalah menjadi hak Alvy untuk mau bercerita atau tidak. Aku juga tak pernah mendesaknya agar mau berbagi cerita. Pertemanan kami mengalir begitu saja, seperti air sungai yang mengikuti ke mana derasnya arus membawanya.

“Alvy? Kita kan udah temenan sejak lama. Masa pacarmu cemburu. Aku kan cewek. Ya gak mungkinlah pacarmu larang!”

Braga memang selalu tak lupa kudatangi setiap kali ke Bandung. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan Braga selalu menarik bagi pecinta wisata kota tua. Walaupun pengaruh modernisasi sudah mulai terasa namun itu tidak menghilangkan keaslian bangunan masa lalu di jalan yang tidak terlalu panjang ini. Dari tempatku berdiri ini, aku melihat Braga Citywalk dengan bangunan arsitektur kuno dengan sentuhan pengaruh modern. Di sana, di salah satu sudut tempat nongkrong yang asyik di Braga, beberapa tahun lalu, aku pernah duduk sambil menikmati secangkir cappuccino. Di hadapanku, waktu itu, ada lelaki yang amat kusayangi—selama lebih dari lima tahun terakhir ini, namun kini rasa itu sedikit demi sedikit aus dikikis kerinduan. Lelaki itu menyesap kopi hitam yang ia pesan sambil sesekali menjelajahi setiap inci wajahku dengan sorot mata tajamnya. Ritual penjelajahannya bukan sekali dua kali ia lakukan. Dan selalu saja membuatku salah tingkah.

Ah! Itu dulu, Alyanna..

Bayangan wajah Adrian menyerang ingatanku tentang Wigar. Sepertinya bayangan itu tidak senang jika sosok lelaki lain hadir menyusup di otakku. Ya wajar, pikirku. Di jari manisku sudah tersemat cincin pemberian Adrian. Ia juga sudah menyatakan keseriusannya. Aku pun sudah pada ketetapan hatiku. Mengakhiri kisah bersama Wigar. Melupakannya. Dan memulai babak baru bersama Adrian. Demikian.

Tapi ternyata tak semudah itu, Alyanna..

“Aku udah di Braga nih. Kamu di mana?”
“Aku di Braga Citywalk. Aku tunggu di sini yaa..”
“Oke”

Beberapa menit kemudian, sosok wanita rambut pendek, yang mengenakan kaos oblong, dan jeans sebagai pakaian kebesarannya telah hadir di depanku. Alvy mengulurkan tangannya. Kami bersalaman. Lalu kudekatkan pipiku ke pipinya. Cium pipi kanan, cium pipi kiri.
“Yuk. Temenin aku belanja. Eh tapi kita makan dulu deh. Aku yang traktir. Kamu pasti belum makan, kan?”
“Sip. Tapi aku gak bisa lama-lama ya. Ada janjian sama pacar sore nanti.”
***
“Vy, sini deh. Ada itu tuh, di dagu kamu.” Aku meraih tissue dan mengusapkan ke dagu Alvy akibat saus spaghetti yang menempel di dagu lancipnya.
“Biar saya aja.” Alvy menolak dengan halus dan mengambil alih tissue dari tanganku.
Beberapa detik setelah kejadian itu, kudengar langkah seseorang mendekat ke arah kami. Semakin dekat, langkah itu semakin dipercepat. Belum sempat aku menoleh, kurasakan rambutku ditarik. Dijambak.
“Awww!”
“Kurang ajar kamu ya! Alvy itu pacarku. Dan aku pacarnya Alvy. Jangan ganggu-ganggu dia lagi. Kalau enggak, kamu akan tanggung sendiri resikonya!”

Kubenahi rambutku yang baru saja ia lepaskan. Tangan yang tadi menarik rambutku kulihat putih, mulus. Pemiliknya adalah wanita cantik, berambut panjang, hidung mancung. Mengenakan setelan busana kerja dengan high heels yang memperjelas mulusnya kaki jenjangnya. Aku tak kenal siapa dia. Tapi dari pengakuan wanita girly itu, aku baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah kekasih Alvy.

Saturday, June 16, 2012

Jingga di Ujung Senja



Meeting tadi berjalan lancar pak. Laporannya sudah saya kirim ke email bapak.”
“Baiklah, Alyanna. Besok kita ketemu di Medan ya..”

Kutekan tombol bergambar gagang telepon warna merah. Setelah melapor kepada atasanku di kantor, aku merasa mampu menghela napas lebih lega, setidaknya di penghujung senja hingga sisa hari yang kulalui di kota ini, sebelum besok kulanjutkan perjalanan dinasku ke beberapa kota, sepekan ini.

Setiap orang butuh waktu untuk sendiri.

Aku pun. Di jembatan yang telah menjadi lambang kota Palembang ini, kini aku. Menikmati jingga di ujung senja yang baru pertama kali kutemui di kota ini. Sebuah meeting menggiringku ke kota ini. Pertemuan dengan rekan bisnis yang seharusnya dihadiri oleh atasanku tadi pagi. Lekat-lekat kuamati cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin berlian yang kuterima dari lelaki yang berhasil mencipta jutaan cinta dariku untuknya. Cincin yang serupa kusematkan di jari manisnya saat itu, sebenarnya ia sendiri yang menyiapkan semuanya, menyiapkan kejutan demi kejutan untukku.

Matahari sebentar lagi hilang tertelan Sungai Musi. Senja ini kian menjingga di sepanjang jembatan Ampera. Sebentar lagi sensasi senja akan berganti dengan tautan gelap malam di semesta. Aku merasakan ada mata yang mengintaiku. Aku menoleh dan kuarahkan pandang ke sepanjang jembatan yang membelah sungai musi. Lampu-lampu yang siap menghiasi Ampera di malam hari mulai dinyalakan, semakin menambah jingga senja ini. Tiba-tiba kurasakan bahuku ditepuk halus oleh tangan lembut.

“Alyanna kan?” pemilik tangan lembut itu menegurku. Suara wanita.
“Hai, ma.. maaf aku lupa. Siapa ya?”
“Aku Widya. Kakaknya Wigar. Kamu pacarnya kan?”

Oh Tuhan! Selama pacaran lebih dari lima tahun dengan pria itu, aku sama sekali tidak pernah tahu kalau Wigar punya kakak perempuan bernama Widya. Kuamati wanita jangkung ini dari ujung rambut sampai ujung kaki, kaos yang ia kenakan agak kebesaran, jeans, dan sepatu bootnya memberi kesan maskulin pada dirinya. Hidung mancungnya memang serupa dengan hidung kepunyaan Wigar. Senyum ramahnya juga mirip. Ya, aku bisa percaya jika wanita itu memang saudara kandung Wigar. Sementara mataku menjelajahi sosok wanita di hadapanku ini, otakku pun turut bekerja, mencari tahu dari mana Widya mengenaliku sebagai pacar Wigar.

“Hmm.. Aku pernah liat fotomu di hp Wigar.” Widya memecah rasa penasaranku.
“Ow..” Aku speechless jadinya. Bibirku menyunggingkan senyum.
“Sedang apa di sini, Al? Bukannya kamu menetap di Jakarta, kan?”
“Aku kebetulan ada tugas dari kantor, Mbak. Tapi besok juga udah balik kok. Mbak Widya tinggal di sini ya?”
“Ya. Ikut suami.”

Di saat aku ingin memulai hari-hari tanpa nama Wigar di kepala dan hatiku, mengapa datang lagi orang yang mengingatkanku tentangnya? Orang yang tak terduga pula datangnya! Ah!

Jingga mengantarkan gundah di ujung senja. Sementara pengunjung jembatan ampera kian ramai dengan senda gurau masing-masing dengan sungai musi sebagai saksi mereka, lampu-lampu yang menghias sepanjang jembatan ampera kurasakan semakin menyorot gundahku di hadapan wanita ini.

“Kapan rencana kalian ke arah yang lebih serius?”

Hei! Kenapa jadi kayak wartawan infotainment yang menodong selebriti dengan pertanyaan menusuk seperti itu? Aku harus jawab apa? Apa aku harus bilang: No comment, seperti selebriti yang sedang tidak ingin dicecar pertanyaan seperti itu? Atau aku harus jujur dengan kerenggangan yang terjadi dan kerinduan yang tak mampu kompromi akan rentang jarak yang membentang?

Thursday, June 14, 2012

Pagi Kuning Keemasan


Sinar matahari pagi baru saja muncul dari peraduannya  setelah semalam penuh berganti posisi dengan rembulan. Megahnya langit pagi ini pun seperti mengucapkan selamat datang kepada kami yang baru saja tiba di pulau kecil nan eksotis ini. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan dengan mengendarai perahu boat yang disewa Adrian khusus untuk kami berdua, tibalah aku dan Adrian dengan decak kagum karena disambut dengan pemandangan pepohonan, butir - butir pasir putih, warna biru kehijauan hamparan laut, suasana pagi kuning keemasan dan juga mercusuar yang menjulang tinggi, sungguh potret pulau kecil yang indah.

“Kamu memang paling bisa ya!” aku mencubit pinggang Adrian, setengah tak percaya atas apa yang terhampar di hadapanku saat ini. Takjub! Beberapa hari lalu secara mengejutkan Adrian menyusulku ke Bukittinggi. Setelah itu Adrian mengajak ke Belitung. Dan subuh tadi aku telah melewati perjalanan laut dan sekarang, aku berdiri tepat di hadapan mercusuar di pulau Lengkuas.

“Iya dong! Naik ke mercusuar yuk. Di sana pasti lebih indah!” ajak Adrian sambil menarik tanganku lalu berlari kecil mendekati seorang petugas. Setelah mendapat izin dari bapak itu, kami akhirnya bisa menaiki mercusuar dan aku masih saja dalam perasaan setengah tak percaya.



Wigar tak pernah memanjakan hubungan kami seperti cara Adrian ini. Wigar tak pernah membumbui hubungan kami dengan romantisme seperti ini.
Di kepalaku kenapa tiba-tiba muncul nama Wigar lagi? Bukannya aku sudah memantapkan hati untuk menatap hari-hari ke depan tanpa dia?

“Kamu gak senang ya, aku ajak ke sini?” Adrian membuyarkan lamunanku.
“Seneng kok! Seneng banget malah. Sampe speechless!” Aku harus membuang jauh-jauh wajah Wigar dari bayanganku. Apalagi saat Adrian sudah mulai menjelajahi bibirku dengan pagutan bibirnya. Kupejamkan mataku. Getaran hangat mengaliri sekujur tubuhku. Tak dapat kupungkiri, akupun menikmatinya. Saat perlahan kubuka mataku dan hendak menjauhkan tubuhku dari pelukan Adrian, lelaki di hadapanku itu kembali menangkap tubuhku dan.. sial! Semakin aku berniat membuang jauh-jauh wajah Wigar, ia menjelma dalam sosok bernama Adrian!

Adrian meraih sesuatu dari dalam ranselnya, “Al, tutup mata dulu ya..”
“Untuk apa?”
“Aku mau kasih sesuatu buat kamu.”

Sehelai saputangan kini menutupi mataku yang diikat erat oleh Adrian. Aku benar-benar tidak bisa melihat apa-apa. Adrian menggenggam tanganku, menuntunku berjalan entah ke mana.
“Kita mau ke mana sih?” aku sungguh dibuat penasaran oleh lelaki ini.
“Sabar, sabar.. ntar juga tau kok!”

Kini kurasakan langkah kakiku menuruni anak tangga. Perlahan, sambil terus dituntun oleh tangan lembut lelaki ini. Adrian akan membawaku ke mana ya? Adrian punya kejutan apa lagi untukku? Ah, Adrian memang lelaki dengan sejuta ide kejutan. Atau aku kegeeran ya?
Kini sekujur tubuhku kurasakan hangat, kupastikan itu adalah berkat sinar matahari pagi yang menerpa kulitku. Kakiku sesekali diterpa halusnya butiran-butiran pasir yang menempel di sandal yang kukenakan.

“Kita mau ke mana sih? Capek tauk!” keluhku sambil melepaskan genggaman tangan Adrian, lalu berhenti berjalan.

“Ayolah, Al.. Bentar lagi sampai kok,” ujar Adrian setengah menarik tanganku. Aku pasrah. Menurut saja ke mana Adrian akan membawaku. Setelah beberapa langkah, kakiku mulai basah. Semakin melangkah, kurasa air sudah selutut.
Adrian membuka saputangan yang sedari tadi menutupi mataku. Kukejap-kejapkan mataku, aku berada di tengah laut Belitung yang begitu bening.

“Ambil kotak itu, lalu bukalah, Al..” perintah Adrian sambil menyerahkan sebuah kunci.
Kuraih kotak kayu yang tenggelam di dasar laut tepat di depan kakiku ini. Riak ombak sesekali menerpa, namun kuabaikan. Karena aku sudah tak sabar membuka gemboknya dengan kunci yang diberikan Adrian tadi. Setelah berhasil melepaskan gemboknya, sebuah kotak yang lebih kecil berwarna putih terlihat mengilap dari dalam kotak kayu. Tanpa pikir panjang lagi, kuraih kotak putih berbentuk hati itu.

Di dalamnya kutemui dua buah cincin berlian. Oh, Tuhan!